Festival Paduan Suara “Mutiara Budaya”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Merayakan Pesta Emas Pusat Musik Liturgi (PML) tentu paling baik dengan Pentas Paduan Suara. Sejak awal tahun 2021 PML merencanakan suatu festival paduan suara dalam dua versi: Versi A secara live pada hari Sabtu, 10 Juli 2021 di Auditorium Puskat khusus untuk paduan suara di Yogyakarta dan sekitarnya; Versi B secara virtual dengan tayangan video dari sejumlah paduan suara di seluruh penjuru Nusantara.

Sejak daftar lagu inkulturasi diedarkan melalui Google Form, banyak peserta yang mendaftarkan diri. Bahkan tidak sedikit kelompok paduan suara yang bertanya: “Untuk ikut harus bayar berapa?” Padahal pendaftaran untuk festival ini tidak dipungut biaya sama sekali. Ada pula yang menanyakan juri dalam festival ini, padahal festival ini diselenggarakan tanpa penjurian. Semua peserta yang terlibat akan mendapatkan sertifikat. 

Bapak Agus Surono bersama Pater Priei, S.J. memandu Festival Panduan Suara secara online.

Segala rencana di atas tidak dapat berjalan dengan mulus karena situasi pademi Covid 19 yang tidak terkendali mendekati hari pelaksanaan festival. Pada Juni 2021 PML mengajukan izin kepada Satgas Covid 19 setempat untuk mengadakan Festival dengan 200 penonton saja dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Proposal tidak disetujui hingga akhirnya pada 3 Juli justru diumumkan adanya PPKM darurat. Panitia dengan sigap terpaksa mengubah konsep festival. Akhirnya festival hanya akan diadakan secara virtual bahkan untuk kelompok paduan suara dari Yogyakarta sekalipun. Setiap peserta terlibat dalam festival ini melalui rekaman video mereka. 

Setelah bergulat dengan proses yang panjang, akhirnya acara festival paduan suara “Mutiara Budaya” terlaksana melalui kanal Youtube PML pada 10 Juli 2021 pukul 17.00-19.30 WIB. PML menampilkan video-video paduan suara yang berpartisipasi dalam festival ini kemudian diberikan komentar dan tanggapan dari pihak PML. 

Banyak orang terhibur dan bergembira dengan festival model ini meskipun masih ada kendala teknis berupa penggeseran antara gambar dan suara. Maklumlah ini “produksi perdana” dari PML. Banyakan paduan suara yang berpartisipasi dalam festival ini bekerja keras untuk menyiapkan rekaman video secara profesional. Terima kasih! PML pun banyak belajar dari festival virtual ini. Meski tidak sama dengan festival secara langsung, dan terlepas dari kekurangan sana sini yang masih ada, pantas dipuji usaha dan kreativitas terutama dalam mengolah segi visual dari masing-masing peserta pantas dipuji. 

Salah satu kelompok yang mengikuti Festival Paduan Suara.

Misa Syukur Ulang Tahun

Tidak hanya rencana festival paduan suara yang porak poranda, rencana misa syukur pun berantakan. Misa Syukur dengan Paduan Suara Vocalista Sonora, dengan lagu-lagu inkulturasi yang diiringi dengan alat musik tradisional, dilengkapi dengan sambutan Romo Provinsial SJ dan dihadiri oleh ratusan undangan alumni, relasi serta ditutup dengan santapan siang sebagai kesempatan untuk bertukar pengalaman dan bercerita, dibatalkan. Akhirnya pada 11 Juli 2021 jam 10.00 diadakan Misa Syukur secara daring yang “disiarkan” lewat Youtube dan HIDUP TV. Misa ini disemarakkan oleh paduan suara yang hanya terdiri dari 8 orang, staf PML, dan beberapa tamu. Proses streaming dibantu oleh pakar medsos, Bp. Aan, dari Atma Jaya yang didampingi oleh Mas Jati, karyawan PML. Moto PML “Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan” dan moto khusus untuk tahun pesta emas PML “Melalui musik yang bermutu menggerakkan hati orang” turut terpampang lewat banner di bagian latar. 

Misa syukur ini diakhiri dengan suatu kejutan yaitu penayangan salam khusus dari Bp. Kardinal Suharyo untuk pesta 50 tahun PML. Beliau masih ingat akan usaha PML dalam membangun inkulturasi sejak tahun 1980an semasa beliau masih kuliah di Fakultas Teologi Wedhabakti (FTW)Kentungan Yogyakarta. Bapak Kardinal juga menegaskan pentingnya karya Pusat Musik Liturgi di masa depan. Selamat Ulang Tahun PML! 

Kontributor : Karl Edmund Prier,S.J. – PML Yogyakarta