capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Eulogia untuk Penutupan Lembaga Penerbitan Cipta Loka Caraka

Date

Memang tak pernah terbayangkan, bahwa hari ini, saya menyaksikan diakhirinya sebuah usaha penerbitan yang dimulai sekitar 50 tahun yang lalu. Saya menjadi saksi mata bagaimana seorang Pater Adolf Heuken, S.J. yang pandai menulis itu, menyusun kata, merangkai kalimat, menuliskannya, menerbitkan, mencari pasar, dan mengumpulkan dana untuk berjalannya sebuah kantor kecil ini. Sebuah perjalanan yang mengesankan dan penuh dedikasi dari sebuah lembaga penerbitan yang dimulai dengan sederhana namun berkembang menjadi bagian integral dari sejarah penerbitan di negeri ini.

Dalam perjalanan Cipta Loka Caraka (CLC), kita menemukan kekayaan makna yang dalam di balik setiap huruf yang membentuk nama ini. KKK- Kursus Kader Katolik- adalah nama sebuah bagian penerbitan Kongregasi Maria yang beralamat di Jalan Gunung Sahari 88, Jakarta. Kongregasi Maria yang waktu itu terkenal dengan nama MC, atau Mariana Congregation, atau Sodality of Our Lady berubah nama menjadi CLC, Christian Life Community. Bagaimana menjadi Cipta Loka Caraka? CLC, Cipta Loka Caraka. Nama ini disusun dari bahan yang diwarisi dari CLC, Christian Life Community tersebut. Dari “C “yang pertama ini jadilah kata Cipta, di dalamnya terkandung makna cipta, mencipta. membuat, melakukan. Dari Life, menjadi Loka, di dalamnya terkandung makna tempat. Dan “C” yang kedua menunjuk pada kata Caraka, yang berarti utusan. Dengan cita-cita dan harapan yang mendalam untuk menjadi “Tempat Mencipta Utusan”; CLC mengusahakan diri untuk menawarkan tulisan yang kiranya dapat berguna bagi siapa saja yang terpanggil untuk menjadi penjaga tradisi, pembawa cahaya, dan pembentuk karakter.

Lembaga penerbitan ini lahir dari semangat yang suci, dengan misi awal menyebarkan bacaan rohani untuk kaum muda. Seiring berjalannya waktu, lembaga ini tumbuh dan berkembang, merambah ke berbagai bidang pengetahuan. Dari penerbitan buku-buku kecil, berbagai kamus sederhana hingga kamus yang tebal, buku sejarah kota Jakarta, serta ensiklopedi Gereja Katolik. Lembaga ini telah menjadi bagian penting dalam menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Saya mengenangnya sebagai sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan masa awal yang amat sederhana. Bagaikan merangkak, berjalan tertatih-tatih yang dilanjutkan tanpa terlalu banyak suara, tetapi tetap hidup, tetap berproduksi dan tetap berdedikasi. Kami yang berada pada masa awal CLC ini, boleh merasa bersyukur dapat mengamati secara dekat, Pater Adolf Heuken, S.J. sebagai pendiri, penulis, penerbit, pencipta pasar, pengembang langganan, pencari dana, dan pelaku riset. Beliau memberikan sebuah teladan bagaimana pada masa awal kami diajari untuk tidak hanya sekadar menjadi pelaksana tugas, tetapi juga merumuskan dasar pengertian tentang apa yang CLC lakukan dan bagaimana buah pekerjaannya dapat bermakna bagi umat dan masyarakat.

Namun, seperti yang kita ketahui, zaman baru datang membawa perubahan yang tak terhindarkan. Lembaga penerbitan ini, yang telah memulai menjadi penjelajah intelektual kemudian menghadapi tantangan perubahan zaman. Isi, cara pemasaran, dan interaksi dengan masyarakat pun berubah. Meskipun perubahan ini memaksa kita untuk menerima penutupan lembaga ini, kita juga diundang untuk bersyukur atas semua perolehannya selama ini. Sekaligus kita berharap agar rasa syukur itu menjadi modal untuk melangkah ke depan. Kelebihan CLC terletak pada keberaniannya untuk membuat rintisan. CLC melihat kebutuhan, CLC mengambil tindakan.

Lembaga penerbitan ini tidak hanya meninggalkan cetakan fisik yang memenuhi rak-rak perpustakaan, tetapi juga warisan tak terlihat berupa pengetahuan dan inspirasi. Karya-karya yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan kemajuan intelektual, tetapi juga cermin dari semangat kebersamaan dan kerja keras yang mengubahnya menjadi lembaga yang buah karyanya diserap oleh masyarakat.

Seraya kita menutup bab ini, mari kita bersyukur untuk semua yang telah dicapai dan kita rayakan bersama. Meskipun lembaga ini akan berakhir, semoga semangatnya tetap hidup melalui setiap buku yang telah diterbitkan, setiap ide yang telah dianugerahkan kepada kita, dan setiap perubahan positif yang telah mendapat inspirasi darinya. Kita bersyukur karena CLC telah melayani pada zamannya. Semoga setiap utusan yang pernah tersentuh oleh Cipta Loka Caraka dapat membawa sinar kebaikan dan kebahagiaan ke tempat-tempat yang mereka kunjungi dan menerangi jalan yang mereka lalui. Selamat beristirahat CLC, selamat menuju keabadian, Cipta Loka Caraka. Semoga jejak yang telah kaurintis terus berlanjut dalam berjuta cara.

Kontributor: P. Ignatius Ismartono, S.J.

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top