Refleksi Atas Pertemuan Komisi RwC (Reconciliation with Creation) Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP) di KPTT Salatiga
“Saya tidak takut pada dunia yang baru. Yang saya takutkan adalah jika kita para Jesuit tidak punya apa pun untuk ditawarkan kepada dunia itu, tidak bisa berbicara atau berbuat apa pun untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai Jesuit.” Demikianlah, kata-kata Pedro Arrupe seperti tertulis dalam buku Rencana Apostolik Provinsi Indonesia 2023-2029 ini sangat menyentuh saya ketika merenungkan persoalan ekologi yang kita hadapi saat ini.
Pergantian bulan dari Juli ke Agustus ini menyentak kesadaran saya akan satu hal: isu ekologi yang krusial kini kian terpinggirkan. Realitas ini mengemuka dalam dua momen penting. Pertama, Forum Provinsi Indonesia akhir Juli lalu secara blak-blakan menyoroti rapuhnya perhatian kita terhadap isu lingkungan. Kedua, pertemuan Komisi RwC (Reconciliation with Creation) Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP) di KPTT Salatiga awal Agustus ini menegaskan bahwa kelengahan ini terjadi di tingkat global. Laporan dari berbagai wilayah JCAP senada membenarkan hal tersebut. Refleksi ini membawa saya kembali pada pertanyaan tajam Pedro Arrupe, “Sebagai Jesuit, apakah kita tidak punya apapun untuk ditawarkan pada dunia ini, tidak bisa berbicara atau berbuat apapun untuk ekologi? Untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai Jesuit?”

Rencana-rencana ekologis dari Siem Reap
Komisi Rekonsiliasi dengan Ciptaan JCAP selama 6 tahun terakhir ini berusaha keras untuk mencoba menjawab pertanyaan di atas: apa yang komisi ini dapat lakukan untuk berbicara dan berbuat demi menanggapi persoalan ekologi lintas provinsi dan Regio JCAP. Tahun lalu, saat pertemuan di Siem Reap, Kamboja, komisi ini merumuskan empat intervensi penting yang dapat dilakukan, yaitu:
- Melaksanakan proyek-proyek inisiatif yang di dalamnya terdapat berbagai kegiatan nyata seperti One Community One Forest dan Creator of Hope. Kegiatan penghijauan ini telah dilakukan di Kamboja dan Indonesia melalui penanaman mangrove di lahan-lahan pinggir pantai yang kritis. Sedangkan Creator of Hope adalah program untuk menjaring dan mendukung orang-orang muda yang memiliki perhatian lebih terhadap lingkungan.
- Capacity building yang didalamnya ada kegiatan Finding God in Farming, Laudato si untuk Jesuit serta staf dan anggota-anggota karya Jesuit. Dari rencana-rencana kegiatan ini, kegiatan Finding God in Farming yang dilakukan KPTT melalui kursus pertanian dan peternakan bisa berjalan dengan baik. KPTT memberikan pelatihan ekologis melalui pertanian di Kamboja dan Timor Leste. Pengalaman inilah yang akhirnya menarik perhatian para delegasi RwC untuk datang, melihat dan belajar bagaimana kegiatan capacity building dilakukan.
- Strategic Partnerships di mana komunitas Jesuit JCAP bersifat beragam dan tersebar. Banyak kelompok telah meluncurkan inisiatif yang melayani komunitas rentan, misalnya masyarakat adat, migran dan pengungsi, serta komunitas yang berisiko mengalami pengungsian paksa, dan sebagainya, namun dengan tujuan yang saling tumpang tindih. Agar tidak saling tumpang tindih, terdapat potensi untuk berkolaborasi dan menjalin kemitraan, memanfaatkan sumber daya, serta memperluas dampak kita.
- Advocacy, yaitu kegiatan yang mengupayakan perubahan dalam praktik-praktik di komunitas atau lembaga Jesuit kita, terutama yang tidak secara eksplisit berkaitan dengan ekologi, demi kesetiaan yang lebih mendalam dalam mengamalkan nilai-nilai Laudato Si.’ Hal ini dapat dilakukan di tingkat komunitas, lembaga, provinsi, atau konferensi kita. Kita juga dapat belajar bagaimana anggota komunitas Jesuit global lainnya mengembangkan atau mempraktikkan cara bertindak yang berwawasan ekologi.

Penanaman Mangrove di Tambak Lorok, Semarang
Pada hari terakhir pertemuan RWC di KPTT, para delegasi mewujudkan bentuk nyata dari rencana-rencana intervensi yang direncanakan di Siem Reap, yaitu penanaman mangrove di Desa Tambak Lorok, Semarang. Kegiatan penanaman ini melibatkan banyak pihak, antara lain Komisi RwC, JRS Indonesia, LPUBTN-KAS, dan masyarakat Tambak Lorok.
Bersama warga Tambak Lorok, kami menanam 250 pohon mangrove untuk memperkuat garis pantai. Dulunya, area ini merupakan area yang sangat kritis dan selalu diterjang ombak dari Pantai Utara Semarang. Inisiatif ini memang kecil, namun semoga dapat memberi harapan besar bagi rencana inisiatif selanjutnya.
Di bagian akhir pertemuan RwC, kami menyadari bahwa persoalan ekologi menjadi tantangan bagi semua pihak. Negara-negara seperti Singapura, Korea, Jepang, dan Australia yang kita pandang sebagai negara maju dan kita anggap minim persoalan ekologis, nyatanya juga punya persoalan-persoalan ekologis tersendiri yang tingkat bahayanya kadang lebih besar, misalnya Jepang dengan persoalan limbah nuklir.
Maka, mari kita bersama-sama memperkuat sisi lemah perhatian kita terhadap lingkungan hidup dengan berbicara dan berbuat sebagaimana dimandatkan Laudato si, Universal Apostolic Preferences, dan rencana-rencana apostolik Provindo. Salam Lestari.


