Pilgrims on Christ’s Mission

Diutus untuk Membantu yang Lain menjadi Serupa dengan Kristus

Kisah Kaul Pertama Lima Novis Serikat Jesus

Pada Rabu, 24 Juni 2026, lima frater novis telah mengucapkan kaul pertama mereka di Kapel La Storta, Girisonta dihadapan Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Kelima skolastik baru tersebut antara lain:

  1. Sch. John Fisher Gading Winugraha dari Paroki St. Yohanes Rasul, Kedaton, Lampung,
  2. Sch. Arnoldus Iga Pradipta Wihantara, dari Paroki Maria Marganingsih, Kalasan, Sleman,
  3. Sch. Realino Halford Triatmaja, dari Paroki St. Paulus Miki, Salatiga,
  4. Sch. Karel Amadeus Effendi, dari Paroki St. Petrus, Lubuk Baja, Batam,
  5. Sch. Efrem Mas Aletadeo Satya Pramuda, dari Paroki St. Robertus Bellarminus, Cililitan, Jakarta Timur.

Perayaan Ekaristi Pengucapan Kaul Pertama berlangsung khidmat, dihadiri keluarga para skolastik baru, tamu undangan, serta beberapa nostri yang sedang berada di Girisonta.

 

Para kaules mengucapkan kaulnya di hadapan Pater Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia. (Foto: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.)

 

Being Placed with Christ in Our Christifying Pilgrimage

Tema Perayaan Ekaristi Pengucapan Kaul Pertama bertemakan “Being Placed with Christ in Our Christifying Pilgrimage”. Tema tersebut dipilih oleh kelima skolastik baru sebagai hasil refleksi selama kurang lebih dua tahun masa formasi novisiat di Girisonta. Dalam buku panduan perayaan Ekaristi, kelima skolastik baru menceritakan pengalaman pribadinya yang berkesan selama formasi yang menginspirasi tema kaul pertama mereka. Tema ini bisa dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu being placed with Christ dan our Christifying pilgrimage.

Being placed with Christ, atau ditempatkan bersama Kristus, berarti bahwa selama menghayati panggilan sebagai Jesuit, mereka percaya bahwa Allah bukan sekadar memanggil mereka, tetapi juga membantu mereka berjuang sendirian dalam menanggapi panggilan tersebut. Namun, Allah secara aktif bekerja dalam diri mereka, mempersatukan dan menempatkan mereka bersama Kristus untuk berjuang bersama-Nya, sehingga mereka tidak berjalan dalam peziarahan ini sendirian.

Our Christifying pilgrimage merupakan tema yang unik dan menjadi sorotan dalam perayaan Ekaristi ini. “Peziarahan” dan “Christifying” merupakan kata yang dapat merangkum seluruh perjalanan panggilan yang telah dan akan dilewati. Dalam perjalanan berziarah, para skolastik baru sering kali mengalami penghiburan Allah (konsolasi) yang senantiasa menjaga dan melindungi, serta mengalami desolasi, pengalaman pahit yang tidak jarang terjadi, tetapi mampu menguatkan mereka untuk berkembang. Sementara itu, Christifying berarti keinginan dan kehendak nyata untuk selalu menjadi seperti Kristus dalam penderitaan-Nya. Kata ‘Our’ bukan berarti pengalaman mereka sebagai individu satu angkatan, melainkan pengalaman relasi masing-masing individu dengan Kristus untuk menjadi pribadi yang semakin serupa dengan-Nya.

 

Para Kaules mengucapkan kaul mereka dihadapan Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia dan Sakramen Mahakudus. Foto: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

 

Belajar untuk Tidak Terlena dalam Kemudahan

Pater Benny dalam homilinya mendukung gagasan dan keinginan para skolastik baru dalam upaya mengkristuskan diri. Beliau menyampaikan kisah yang menarik untuk direnungkan ketika sedang menjalani masa studi di London, Inggris. Pada masa itu, ketika teknologi GPS belum ada dan belum berkembang pesat seperti sekarang, para sopir taksi di Kota London harus memiliki pengetahuan yang amat baik tentang seluk-beluk jalanan di Kota London dan sekitarnya, karena salah satu syarat untuk menjadi sopir taksi saat itu adalah lulus ujian menghafal seluruh jalan di Kota London.

Suatu ketika, saat pulang dari tempat studi menuju komunitas Jesuit, Pater Benny terpukau oleh pengetahuan sang sopir taksi tentang rute menuju rumah komunitas Jesuit di Jalan Goldhurst Terrace. Rupanya, ada dua jalan menuju lokasi itu sehingga nomor rumah menjadi penentu jalur yang harus ditempuh.

Proses pembelajaran dan pemahaman pada kisah sopir taksi tadi menjadi sebuah perenungan bahwa meskipun dalam prosesnya banyak tantangan dan ujian untuk mencapai tujuan, pada akhirnya kita pun akan merasakan buah dari ujian itu. Hal ini diajarkan oleh Santo Ignatius dalam empat minggu latihan rohani, dengan mengalami tiga tahapan perjalanan, yaitu:

  1. Via Purgativa, pengalaman yang menyadarkan diri akan kecilnya diri mereka di hadapan Tuhan,
  2. Via Illuminativa, pengalaman pencerahan untuk memulai perjalanan mengikuti Allah,
  3. Ditutup oleh Via Unitiva, menjadi dekat dan bersatu dengan Allah.

Kemudahan-kemudahan instan yang kita alami, seperti teknologi GPS, membuat kita kurang menghargai proses perjalanan untuk menjadi lebih matang. Maka, melalui tiga tahapan perjalanan yang tidak mudah tersebut, kita akan terbantu agar tidak terlena oleh kemudahan. Akan tetapi, dalam kesusahan yang kita alami, kita dapat menemukan buah yang akan membentuk kita agar semakin serupa dengan Kristus.

 

Bukan hanya Formasi untuk Para Frater

Dalam kata sambutan perwakilan orang tua yang disampaikan oleh orang tua Sch. Halford mengingat kembali pengalamannya ketika orang tua merelakan anaknya menjadi bagian dari Serikat Jesus. Keluarga Sch. Halford saat itu merupakan keluarga yang tinggal paling dekat dengan Girisonta di antara semua novis lainnya. Sering kali, dalam berbagai kesempatan, mereka memiliki peluang untuk bertemu dengan anaknya, sekadar menyapa dari kejauhan. Mereka kerap merasa khawatir tentang kondisi anak mereka yang berada jauh dari rumah. Namun, mereka selalu dikuatkan dan diingatkan untuk tidak memenangkan ego pribadi, serta merelakan anaknya menjalani perjalanan panggilan bersama saudara dan keluarga barunya, yaitu Serikat.

Pengalaman yang tidak mudah, namun akhirnya mampu dijalani dengan tabah dan setia. Hal ini juga dimaknai sebagai pembentukan seorang orang tua agar benar-benar mempersembahkan anaknya sebagai bagian dari Serikat dan menjadi milik Tuhan, bukan lagi semata-mata milik keluarga. Dukungan yang kini dapat diberikan adalah mendoakan mereka agar tetap teguh dan setia dalam perjalanan menanggapi panggilan imamat mereka.

 

Pater Benny menandatangani
teks kaul pertama yang diucapkan oleh para kaules. Foto: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

 

Diutus untuk Membantu yang Lain menjadi Serupa dengan Kristus

Setelah mengucapkan kaul pertama di hadapan Sakramen Mahakudus dan Pater Provincial, sebagai skolastik, mereka selanjutnya akan diutus untuk belajar filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Perutusan ini rupanya akan menarik karena selain belajar, mereka juga akan menemani dan mendampingi para skolastik yang berasal dari luar negeri selama belajar di Jakarta. Pengalaman ini merupakan perwujudan konkret seorang peziarah yang bukan hanya berjalan sendiri, tetapi juga berjalan bersama peziarah lain, dalam dinamika yang serupa dengan Kristus. Mari kita dukung dalam doa agar kelima skolastik baru ini semakin dikuatkan dalam perutusan dan semakin serupa dengan Kristus.

Get in Touch With Us

More News