Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Siswa-Siswi Katolik SMA Non-Swasta Katolik (PERSINK) KAJ.
Ekaristi Kaum Muda atau lazim disebut EKM merupakan perayaan Ekaristi khusus bagi Orang Muda Katolik (OMK) yang disiapkan oleh mereka sendiri sebagai ungkapan syukur atas iman, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Seluruh panitia dan petugas pelayan liturgi, seperti lektor, pemazmur, misdinar, dan lain-lain, adalah orang muda yang berkreasi dengan mengakulturasi musik masa kini. Kegiatan ini juga menjadi wadah kebersamaan dan hangatnya kekeluargaan orang muda untuk memuji Tuhan dan memperdalam iman. EKM sendiri adalah program kerja kolaborasi yang diadakan setiap tahun antara Persaudaraan Siswa-Siswi Katolik SMA Non-Swasta Katolik (PERSINK) KAJ, Sekolah Kolese Kanisius, dan sekolah-sekolah swasta Katolik lain, dengan mengundang siswa-siswi dari SMA/K negeri, non-swasta, maupun swasta Katolik sebagai peserta.
Pada tahun ini, EKM dilaksanakan pada 16 Mei 2026 di Kolese Kanisius dengan jumlah peserta sebanyak 175 orang. Kegiatan ini melibatkan komunitas PERSINK KAJ dan 4 sekolah swasta Katolik, yaitu SMA Kolese Kanisius, SMA/K Tarakanita, SMA Santa Theresia, dan SMA Santa Ursula. Sebagai dasar pelaksanaan acara, EKM 2026 mengusung tema “Connect and Ignite.” Kata “connect” menggambarkan kerinduan OMK untuk terhubung kembali dengan Tuhan melalui Ekaristi, doa, dan komunitas iman. Juga bisa berarti menyatukan sesama umat, terutama orang muda Katolik, dengan sifat manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling terhubung. Sedangkan kata ignite berarti “menyalakan” atau membangkitkan semangat iman, kasih, pelayanan, dan keberanian untuk hidup sebagai murid Kristus. Kata ini juga merupakan penggambaran api yang membakar semangat persaudaraan sesama di dalam Kristus Yesus. Secara keseluruhan, tema ini melambangkan proses membangun koneksi dengan Tuhan dan sesama agar api semangat Kristus di dalam diri tetap menyala.
Perjalanan menuju EKM 2026 dimulai sejak dua bulan sebelumnya. Rapat perdana dilakukan tepat pada 16 Maret 2026. Dalam rapat ini, para panitia mendiskusikan tema yang akan dipilih. Setelah tema ditetapkan, setiap divisi seperti acara, dokumentasi, liturgi, konsumsi, publikasi, perlengkapan, desain, dan keamanan berfokus mengerjakan tugasnya masing-masing. Terdapat beberapa modifikasi dan kreasi dalam misa yang dirancang untuk lebih memeriahkan perayaan tanpa mengurangi kekhusyukan doa. Kemudian, pada tanggal 15 Mei 2026, para panitia dan petugas liturgi melakukan gladi bersih untuk melatih dan memastikan kelancaran EKM, mulai dari sound system, musik, tata gerak liturgi, dan lain sebagainya. Proses persiapan selama dua bulan ini menjadi momen berharga bagi para panitia untuk saling mengenal, bekerja sama, dan bertumbuh bersama dalam iman.
Pada hari pelaksanaan, para panitia datang pukul 13.00 untuk mempersiapkan semuanya secara lebih rinci dan menyeluruh. Peserta mulai berdatangan pada pukul 15.30 dan menempatkan diri di area sporthall Kolese Kanisius, tempat EKM dilaksanakan. Mereka disambut dengan band yang membawakan worship song dengan meriah. Selain itu, ada penayangan video reflektif yang berisi wawancara dengan beberapa orang muda mengenai kondisi hidup rohani dalam lingkungan pertemanan mereka.

Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 16.00. Misa ini dipimpin oleh dua imam, yaitu Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J. dan Pater Albertus Buddy Haryadi, S.J. Ada beberapa hal yang unik dari Ekaristi ini, salah satunya adalah adanya orkestra dan paduan suara gabungan yang terdiri atas siswa-siswi dari sekolah-sekolah yang berkolaborasi dalam EKM ini. Penampilan aransemen musik yang mengiringi lagu pada EKM ini memberikan kesan megah dan semarak yang tidak biasa serta berbeda dari misa mingguan pada umumnya. Terdapat pula penampilan monolog tobat yang ditampilkan untuk lebih merefleksikan diri sebagai orang muda yang berdosa dan ingin bertobat kembali kepada Yesus Kristus.
Lalu, hal unik lain yang menjadi poin kreasi adalah penampilan drama singkat pada bagian homili sebelum Pater berkhotbah. Drama ini berisi cerita mengenai suatu kepanitiaan yang hampir menyerah melaksanakan sebuah acara karena kehilangan sosok mentor yang memimpin mereka, namun akhirnya mereka menyadari bahwa mereka bisa melaksanakan acara tersebut dengan kekuatan dalam diri mereka sendiri, karena Tuhan Yesus adalah kekuatan besar yang menuntun mereka. Setelah drama, Pater Alexander Koko, S.J. menyampaikan tanggapan melalui khotbahnya yang mengajak umat untuk terkoneksi kembali dengan Tuhan dan menyalakan api cinta kasih di sekitar kita. Sebagai manusia, kita diajak untuk mengasihi Tuhan dan juga untuk semakin mengasihi sesama. Kasih tidak hanya diwujudkan dari ibadah dan doa semata, melainkan juga dari sikap dan cara bertindak kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang dapat menyalakan api untuk menerangi dunia dengan kasih Yesus yang sempurna. Salah satu cara bertindak yang bisa kita lakukan adalah menghargai, menghormati, saling peduli, dan mengasihi sesama.
Perayaan EKM ini meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang yang hadir. Salah satunya adalah momen ketika monolog tobat ditampilkan, diiringi musik organ yang syahdu dan menyentuh hati umat. Kalimat demi kalimat yang didaraskan mampu menyentuh perasaan, salah satunya adalah kalimat “aku pulang karena merindukan-Mu merupakan keinginanku untuk dapat menyentuh hati-Mu seluruhnya.” Bagi banyak orang muda yang hadir, monolog ini menjadi ajakan sunyi untuk menempatkan diri sebagai pribadi yang berdosa dan sungguh ingin bertobat.
Ada hal yang berbeda saat doa umat didaraskan dalam EKM ini. Para pembaca doa umat adalah orang muda yang berjalan menuju altar sambil membawa lentera. Setelah doa umat didaraskan, lentera akan dibawa dan ditempatkan di belakang altar sebagai perwujudan “ignite” atau “menyalakan” semangat iman orang muda dalam kehidupan rohani yang terkoneksi di dalamnya.

Selain itu, aransemen orkestra dan nyanyian merdu dari koor semakin menambah kemeriahan EKM ini. EKM ini mengajarkan orang muda untuk mencintai Yesus melalui Ekaristi. Lalu, setiap orang muda diajak untuk merefleksikan diri sebagai pribadi yang akan dan pasti terjun ke dalam dunia yang luas serta menghadapi kesulitan, baik dari segi lingkungan keluarga, kerohanian, pertemanan, pekerjaan, sekolah, dan lainnya. Namun, dalam EKM ini semua diajak untuk kembali melihat diri sebagai Orang Muda Katolik yang bisa menghadapi semua kesulitan itu dengan kembali terkoneksi satu sama lain dan saling mengobarkan api semangat kasih Yesus dalam kehidupan.
Melalui EKM ini, para peserta menyadari bahwa sebagai orang muda Katolik, mereka dipanggil untuk terus menyalakan semangat iman dalam kehidupan sehari-hari. Semangat untuk mewartakan kabar gembira, menjadi murid Yesus yang setia, menghadirkan terang di tengah dunia yang sering kali dipenuhi kegelapan, serta membangun hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Dari setiap proses, perjumpaan, dan pengalaman yang dilalui di EKM, orang muda Katolik belajar bahwa menjadi murid Kristus bukan hanya tentang percaya, tetapi juga tentang berani bergerak, peduli, dan membawa harapan bagi orang lain.


