Saat Gereja Memeluk Mereka yang Istimewa
“Pas ke gereja, saya menangis sepanjang misa. Saya tidak ada apa-apa dengan orang tua mereka. Hati mereka seluas samudra, bisa berbesar hati menerima keterbatasan anak-anak mereka. Saya yang diberi anugerah spesial yang tidak sebanding dengan mereka sering kali menjadi lebih mudah tersinggung. Tuhan mempersiapkan orang tua dan para penolong lainnya, menerima keterbatasan, dan mencintai sepenuhnya.”
Demikian kesaksian seorang umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, Kamis, 14 Mei 2026, di Gereja Santa Theresia Bongsari, Semarang. Suasana pagi itu memang berbeda. Ada getar rohani yang lebih kental dan melampaui kata-kata saat Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) menjadi petugas liturgi dengan penuh sukacita.
Perayaan Ekaristi pukul 08.30 WIB tidak sekadar menempatkan UBK sebagai objek pastoral atau “tamu undangan,” melainkan sebagai subjek yang berdaulat dalam liturgi. Sebanyak 30 personel dari Komunitas UBK Santa Lidwina Kevikepan Semarang dan Paguyuban UBK Paroki Bongsari berperan sebagai petugas koor, pembawa persembahan, pemazmur, hingga lektor.
Keterbatasan fisik maupun kognitif terbukti bukan penghalang bagi mereka untuk memberikan persembahan terbaik. Di mimbar, seorang lektor tunanetra jemarinya menari di atas barisan huruf Braille, melantunkan Sabda Tuhan dengan artikulasi yang bening. Di sudut lain, seorang pemazmur melantunkan puji-pujian yang menggetarkan hati umat yang hadir dan mengundang refleksi.
Kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) di samping altar memastikan bahwa Kabar Sukacita hari itu tidak terhenti pada mereka yang mendengar secara fisik, tetapi juga meresap ke dalam hati teman-teman tuli. Inilah wujud nyata Gereja yang berjalan bersama mereka yang terpinggirkan, sekaligus menjadi upaya memastikan setiap pribadi mampu menyambut Kristus dengan cara yang memungkinkan bagi mereka.
Pater Synesius Suyitna, S.J., Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari, dalam homilinya menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat. Kehadiran UBK di altar bukan sekadar formalitas perayaan hari raya, melainkan pernyataan iman bahwa dalam Kristus, tidak ada tubuh yang kurang atau jiwa yang tertinggal.
Latihan keras yang dijalani para anggota UBK selama berminggu-minggu berbuah indah. Ketulusan sekaligus keterbatasan mereka saat bertugas menciptakan atmosfer yang membuat banyak umat menitikkan air mata. Umat terharu bukan karena merasa kasihan, melainkan karena rasa hormat atas ketangguhan iman dan dedikasi mereka dalam melayani Tuhan.
“Mereka mengajarkan kita tentang mencintai secara sempurna di tengah keterbatasan,” bisik salah seorang umat lain yang mengikuti misa pagi itu.

Paroki Ramah Disabilitas
Paroki Bongsari terus berbenah untuk menjadi oase bagi kaum difabel. Selain dukungan liturgis, gereja ini telah melengkapi fasilitas fisiknya dengan akses jalan khusus (ramp) dan toilet yang memadai bagi penyandang disabilitas.
Kerja sama antara Paguyuban UBK Bongsari dan Komunitas UBK St. Lidwina Kevikepan Semarang menjadi lokomotif bagi gerakan ini. Ke depan, diharapkan semakin banyak paroki yang tergerak untuk membuka diri bagi mereka yang berkebutuhan khusus.
Seusai misa, kegembiraan berlanjut di Ruang Loyola. Sekitar 100 orang UBK berkumpul dalam suasana kekeluargaan untuk mengikuti sosialisasi komunitas yang dipimpin oleh Ibu Astri Wulan, Koordinator Komunitas UBK Kevikepan Kategorial Semarang.
Ada kabar baik yang disambut dengan sorai lirih dan senyum lebar: rencana penerimaan Sakramen Inisiasi pada 3 Desember 2026 mendatang bagi anggota UBK. Misa UBK ini menjadi penanda bahwa hak-hak sakramental umat berkebutuhan khusus harus dipenuhi sebagai bagian dari pemeliharaan jiwa.
Melalui hari istimewa ini mereka berbagi cerita, tawa, dan penerimaan. Bagi para orang tua UBK, hari itu adalah bukti bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Gereja menyatakan dirinya hadir, merangkul, dan menguatkan UBK. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari Universal Apostolic Preferences (UAP) Serikat Jesus, khususnya dalam poin menyertai kaum tersisih dan mereka yang martabatnya terabaikan. Dengan merangkul umat berkebutuhan khusus, Gereja tidak hanya menyediakan akses fisik, tetapi juga mengakui martabat luhur setiap pribadi sebagai citra Allah yang berhak terlibat sepenuhnya dalam kehidupan rohani.


