Perayaan Canisius Day di Kolese Kanisius, Jakarta
Kolese Kanisius Jakarta, Senin, 27 April 2026, merayakan Canisius Day, yaitu hari yang didedikasikan untuk mengenang patron sekolah, Santo Petrus Kanisius. Melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Benedictus Hari Juliawan, S.J., dengan konselebran Pater L.E. Bambang Winandoko, Pater Alexander Koko Siswijayanto, Pater Bagus Laksana, dan para pater Jesuit lainnya, para Kanisian diajak untuk memiliki kebebasan batin dalam mengambil keputusan hidup seperti yang dilakukan oleh Petrus Kanisius dan Fransiskus Xaverius agar hidup mereka lebih bermakna dan sesuai dengan kehendak Allah.
Perayaan ini juga menandai beberapa peristiwa penting di Kolese Kanisius.
Peristiwa pertama adalah peresmian logo Kolese Xaverius yang akan dibangun oleh Serikat Jesus Provinsi Indonesia di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Logo ini dibuat oleh ketua PAKKJ, Bapak James Widyabudhi Prakarsa (CC 96)

Desain perisai ini kokoh diikat oleh siluet salib yang membentang di tengah tameng, membagi sekaligus menyatukan keempat kuadran. Salib sentral ini menegaskan bahwa seluruh aspek pendidikan, budaya, dan pelayanan di Kolese Xaverius berpusat teguh pada Kristus (Christ-centered), ditopang oleh dominasi warna biru sebagai warna bumi yang memancarkan kedalaman integritas.
- Kiri Atas (IHS & Sinar Matahari). Monogram IHS ditempatkan di kuadran pertama sebagai fondasi utama Identitas Jesuit, menegaskan bahwa Tuhan adalah terang sejati dan sumber dari segala hikmat akal budi.
- Kanan Atas (Enggang & Latar Ornamen). Kehadiran burung enggang menyimbolkan kekuatan spirit, kesetiaan, dan kemuliaan. Visual ini memanifestasikan semangat Magis yang inspiratif, yakni dorongan proaktif bagi para siswa untuk selalu terbang lebih tinggi demi menggapai keunggulan dan prestasi terbaik.
- Kiri Bawah (Sungai Kehidupan). Filosofi air sungai yang terus mengalir merepresentasikan nilai men and women for others (pelayanan tanpa pamrih). Pada varian emas, sentuhan warna merah ditambahkan untuk mencerminkan keberanian sekaligus identitas kebangsaan Indonesia, serta mencetak individu yang melayani sesama dengan semangat cinta tanah air.
- Kanan Bawah (Kapal Misionaris). Menampilkan siluet kapal layar klasik yang menyimbolkan perjalanan misi agung Santo Fransiskus Xaverius melintasi samudra hingga ke Nusantara. Kapal ini merepresentasikan visi global, ketangguhan dalam mengarungi gelombang masa depan, serta nilai Cura Personalis, semangat misioner untuk membawa terang pendidikan dan kepedulian ke mana pun para siswa kelak berlabuh.
Kolese Xaverius merupakan karya Jesuit Provindo dan secara legal di bawah naungan Yayasan Budi Siswa, pengelola Kolese Kanisius Jakarta. Kehadiran Kolese Xaverius menegaskan komitmen Jesuit Provindo terhadap pendidikan di Indonesia, teristimewa agar formasi sumber daya manusia dan kepemimpinan yang berintegritas, unggul, dan beriman semakin berkembang di tanah Borneo. Terkait kolese termuda ini, pada 21 Juni 2026 akan dilakukan groundbreaking dan diharapkan pada tahun ajaran 2027/2028, sekolah koedukasi (putra dan putri) dengan asrama ini dapat mulai beroperasi.
Kolese Xaverius menegaskan komitmen Serikat Jesus Provinsi Indonesia untuk menghadirkan pendidikan yang membentuk manusia unggul, berintegritas, dan beriman, khususnya di tanah Borneo

Selain peresmian logo, Kolese Kanisius juga membuka pameran relief Bunda Maria bertajuk “Bunda Maria, Doakanlah Kami” (27 April–10 Mei), bekerja sama dengan maestro patung keramik Indonesia, Bapak F. Widayanto, alumnus Kolese Kanisius tahun 1972. Pembukaan pameran diawali dengan prosesi arak-arakan relief Bunda Maria menuju altar, diiringi tarian dan diakhiri dengan lagu Ndherek Dewi Maria. Selanjutnya, relief diberkati sebagai tanda resmi pembukaan pameran. Patung dan relief di sport hall juga turut diberkati sebagai bagian dari karya seni devosional yang dipamerkan. Pameran ini juga merupakan rangkaian kegiatan 100 tahun CC. Sebesar 20% dari hasil penjualan relief dan patung disumbangkan untuk kegiatan 100 tahun CC.
Canisius Day juga secara khusus diintensikan untuk menakhtakan relikui kelas satu patron sekolah, yaitu Santo Petrus Kanisius. Pentakhtaan dilakukan di Kapel Petrus Kanisius, di bawah patung Santo Petrus Kanisius, di sebelah kanan altar. Melalui kehadiran relikui ini, sekolah mengajak seluruh anggota komunitas untuk bertekun meneladani hidup Santo Petrus Kanisius sebagai seorang pujangga Gereja yang tangguh.
Tertulis dalam sertifikat sebagai berikut.
Postulator Jenderal Serikat Jesus yang bertanggung jawab atas perkara para Hamba Allah, yang Terhormat, yang Terberkati, dan para Kudus dari Serikat yang sama, dengan ini memberikan kesaksian yang sah kepada siapapun yang membaca surat ini, bahwa kami telah mengambil sebuah relik suci, yakni sebagian kecil dari tulang Santo Petrus Kanisius, Imam dari Serikat Jesus dan Pujangga Gereja, yang diambil dari relikui yang otentik. Relik suci ini kami tempatkan dengan hormat dalam wadah logam murni berbentuk bulat, tertutup rapat dengan kristal bening, diikat dengan benang sutra berwarna merah, dan disegel dengan meterai resmi kami. Sebagai tanda kebenaran dan keaslian dari semuanya ini, kami menerbitkan surat kesaksian ini, yang telah kami tandatangani dan segel dengan meterai kami sendiri.
Roma, 30 Oktober 2025

Pada saat misa pembukaan perayaan Canisius Day ini, Provincial Jesuit Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., juga memberkati relief yang menggambarkan kehidupan St. Ignatius, St. Petrus Kanisius, dan para sahabat pertama yang mendirikan Serikat Jesus. Relief ini ditempatkan di sisi kanan (jika dilihat dari arah gerbang masuk sekolah) lobi gedung Ignatius. Relief ini dibuat oleh Anton Sananta Studio.
Momen Canisius Day juga menjadi bagian dari pelepasan siswa dalam mengikuti program Compassion Week 2026 yang mencakup berbagai kegiatan, yaitu live-in rintisan di Kalimantan, kegiatan Pramuka kelas VII, live-in kelas VIII dan XI, serta jambore kelas X.
Selanjutnya, pada Sabtu, 2 Mei 2026, Kolese Kanisius menyelenggarakan talkshow bertema Devosi Bunda Maria. Talkshow ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Pater Bagus Laksana S.J., Rektor Universitas Sanata Dharma sekaligus Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia terpilih, serta Bapak F. Widayanto, maestro pematung keramik Indonesia dan alumnus CC 1972. Acara ini dipandu oleh Arto Biantoro, CC 1992, pegiat brand lokal Indonesia.
Talkshow ini merupakan bagian dari pameran relief Bunda Maria bertajuk Bunda Maria, Doakanlah Kami, sebuah penggalan doa Salam Maria yang dekat dengan tradisi devosi Gereja. Pameran ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan 100 tahun Kolese Kanisius.
Dua hal pokok menjadi topik diskusi yang menarik bagi audiens, pembicara, dan moderator. Pertama, karya-karya F. Widayanto mengajak umat untuk “mendekatkan” Bunda Maria, bukan semata-mata sebagai sosok suci dan ibu umat beriman, tetapi juga sebagai seorang ibu yang menjalani kehidupan sehari-hari seperti manusia pada umumnya.
Pater Bagus secara khusus tertarik pada patung Holy Trip yang menggambarkan perjalanan keluarga Bunda Maria menunggangi kerbau. Karya tersebut mengingatkannya pada pengalaman masa kecilnya saat memandikan kerbau di sungai dan belajar menaikinya. Menurutnya, kerbau memiliki karakter yang berbeda dari binatang lain: punggungnya lebar dan kulitnya agak kasar. Penggambaran kerbau sebagai binatang tunggangan, selain keledai, menghadirkan kedekatan dengan konteks budaya Indonesia dan membuat kisah keluarga kudus terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat kita.

Poin penting kedua adalah bahwa devosi kepada Bunda Maria harus mengantar umat semakin dekat kepada Yesus. Peringatan Maria Dikandung Tanpa Noda menunjukkan bahwa Maria adalah pribadi pilihan yang dipersiapkan Allah untuk mengandung Sang Penebus. Namun demikian, Maria tetap bukan pribadi yang lebih besar daripada Yesus.
Pater Bagus melihat pesan tersebut tergambar dengan sangat indah dalam patung berjudul Suci Ning Suci, yang melukiskan Yesus mencium kening Bunda Maria. Menurutnya, seluruh devosi kepada Bunda Maria pada akhirnya harus membawa umat semakin dekat dan semakin beriman kepada Sang Putra.
Selain kedua pokok pembahasan tersebut, masih banyak diskusi menarik lain yang muncul dalam talkshow ini, seperti bagaimana ekspresi Maria ditampilkan dalam karya seni, proses kreatif dan inspirasi karya-karya F. Widayanto, serta relevansi devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan umat sehari-hari.


