Live In Kolese Gonzaga di Desa Sumber Kabupaten Magelang
Birunya Gunung Sumbing dan Sindoro yang terlihat di sisi kanan, serta Gunung Merapi dan Merbabu di sisi kiri, seakan menyambut kedatangan rombongan Live In Kolese Gonzaga yang mulai memasuki kawasan Magelang, Jawa Tengah. Perjalanan terus berlanjut hingga memasuki Muntilan, lalu naik menuju Gereja Santa Maria Lourdes. Dari situlah kami memulai kegiatan belajar di Desa Sumber bersama masyarakat setempat.
Lestari Hidup, Lestari Pangan
Live In Kolese Gonzaga tahun ini bertema “Lestari Hidup, Lestari Pangan”. Tema ini diambil sebagai satu kesatuan dengan kurikulum Project Based Learning yang diterapkan di kelas XI Kolese Gonzaga, yang pada semester ganjil bertema “Ketahanan Pangan” dan pada semester genap bertema “Agrobisnis.” Tujuan dari Live In sebagai salah satu kegiatan pendidikan karakter adalah untuk mengajak murid mengalami langsung kehidupan di masyarakat dengan berbagai persoalannya, sehingga diharapkan mereka lebih bersyukur, mampu menghargai sesama tanpa memandang latar belakang, menghargai keberagaman, serta mengembangkan pemikiran kritis. Terkait tema, para peserta diharapkan lebih menghargai pangan dan penyediaannya, serta lebih memahami berbagai persoalan terkait penyediaan pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Selama pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dari tanggal 12 April hingga 16 April 2026 di Desa Sumber, Magelang, para murid kelas XI (angkatan XXXVIII) yang berjumlah 274 siswa didampingi 18 guru, ditempatkan di tujuh dusun, yakni Kemiriombo, Ngentak, Candi, Berut, Diwak, Gejiwan, dan Tutup. Antusiasme dan keceriaan para murid sangat nampak ketika distribusi peserta Live In ke dusun-dusun dilakukan dengan menggunakan mobil bak terbuka yang diberi istilah mobil “pajero” singkatan dari bahasa Jawa “panas njaba njero.”

Penerapan Kurikulum yang Terintegrasi
Untuk memantik pemikiran kritis para murid, sebelum pelaksanaan Live In, mereka mendapat banyak pembekalan tentang analisis sosial, ketahanan pangan, dan agrobisnis yang ditinjau dari berbagai bidang ilmu, serta dibimbing oleh para guru bidang studi Biologi, Geografi, Agama, Ekonomi, dan Sosiologi. Mereka juga mendapat pembekalan mengenai beberapa metode penelitian, di antaranya penggunaan Analisis SWOT, Design Thinking, dan Business Model Canvas. Ada beberapa pembicara dari luar yang juga dihadirkan dalam pembekalan yang berlangsung kurang lebih 3 bulan, yaitu Bapak Hibran Stephen Turangan, M.Eng., Presiden Direktur PT Kebun Wisata Pasir Mukti yang juga eksportir hasil pertanian, dr. Andreas Philip Avianto Wicaksono, seorang petani muda dari Klaten yang mendirikan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan), dan Ibu Dr. Avantie Fontana, SE., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia. Dalam pembekalan, para murid langsung bertemu dengan para praktisi sehingga dapat menimba ilmu tentang banyak hal yang berkaitan dengan pertanian maupun metode penelitian. Dengan model pembelajaran ini, para murid diharapkan lebih mudah menangkap fenomena dan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, serta menganalisis pemecahannya.
Menghargai Pangan, Menghargai Petani
Mayoritas warga Desa Sumber adalah petani yang mengolah lahan pertaniannya untuk ditanami padi, singkong dan berbagai sayuran, di antaranya pakcoy, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, serta ketimun. Ketika pagi itu Grace, Vanessa, dan Lintang diajak orang tua asuhnya memetik cabe-cabe yang busuk untuk dibuang karena terserang hama, mereka terlibat dalam percakapan tentang cara merawat tanaman cabe dan naik turunnya harga cabe yang sering kali membuat petani mengalami kesulitan. Aktivitas yang dilakukan para murid di pagi hari hingga siang di persawahan, antara lain menanam padi, mencari rumput, membersihkan lahan ataupun memetik sayuran. Setelah itu, mereka diajak turut membantu memasak sayuran yang diambil dari kebun. Mereka mendapat pengalaman tentang proses pembuatan makanan dari lahan pertanian hingga tersaji di meja makan, dan hal itu membuat mereka lebih menikmati makan sayur. Mikael Bagas merefleksikan pengalamannya saat melihat tanaman timun yang batangnya memiliki duri-duri, sehingga saat memanen timun harus berhati-hati agar kulitnya tidak gatal. Sementara itu, dalam kesehariannya, ia melihat timun yang sudah tersedia di supermarket atau timun yang sudah tersaji sebagai lalapan pendamping pecel lele sebagai sesuatu yang tidak istimewa. Namun, setelah melihat bagaimana merawat tanaman timun dan bagaimana memanennya, ia melihat betapa berharganya timun itu.
Salah satu kegiatan dalam Live In ini adalah ekonomi kreatif. Para murid di tiap dusun diajak mengolah singkong menjadi makanan kecil yang bisa dijual. Mereka harus memarut singkong dan kelapa untuk dibuat menjadi lemet, cemplon/misro, combro, dan lainnya. Hampir semua tangan murid terparut karena tidak terbiasa melakukannya. Setelah makanan tersebut matang, mereka menyantapnya bersama-sama sambil mendiskusikan proses pembuatan hingga hasilnya. Mereka cukup terkejut ketika tahu harga makanan itu di pasaran ternyata sangat murah, padahal dalam pembuatannya berisiko terluka dan terkena parut.

Melihat Light and Shadow dari Berbagai Hal
Desa Sumber dialiri Sungai Senowo, yang merupakan sumber kekayaan alam berupa batu dan pasir hasil erupsi Gunung Merapi. Banyak truk lalu lalang melalui desa ini mengangkut material tersebut. Di satu sisi, penambangan material dapat menjadi sumber penghasilan bagi penduduk yang bekerja sebagai penambang, namun di sisi lain, hal tersebut menjadi ancaman bagi kelestarian alam dan mempercepat kerusakan sarana jalan. Beberapa petani kehilangan lahan pertanian mereka yang terletak di sisi sungai karena penambangan pasir dan batu menyebabkan tanah di sekitarnya longsor. Kondisi ini dapat diamati secara langsung oleh para murid. Kualitas tanah pertanian di kaki gunung yang aktif memang sangat subur karena terpapar material abu vulkanis. Namun, di sisi lain, ketika erupsi terjadi, penduduk harus siap mengungsi dan bisa kehilangan harta benda. Orang tua asuh Piu dan Arya banting setir menjadi produsen pothil, makanan ringan khas Muntilan yang terbuat dari singkong parut yang difermentasi lalu digoreng, karena kehilangan lahan saat Gunung Merapi meletus pada tahun 2010. Para murid melihat perjuangan hidup masyarakat dengan berbagai persoalannya, dan mereka dapat melihat bagaimana orang-orang yang memiliki permasalahan masih terus memupuk harapan serta meyakini bahwa Tuhan pasti akan membuka jalan. Hujan yang setiap sore turun saat kami berkegiatan di Sumber membuka pandangan para murid tentang kebersamaan keluarga yang dapat tercipta saat hujan. Hujan bukanlah hambatan; air yang turun berarti ketersediaan pengairan yang cukup untuk lahan pertanian, dan hujan memberi waktu untuk berhenti sejenak, menikmati teh dan camilan sambil ngobrol atau menonton televisi bersama keluarga.
Seni sebagai Pemersatu Masyarakat
Setiap dusun di Desa Sumber memiliki jadwal latihan seni budaya. Ada berbagai instrumen musik yang mereka mainkan dan berbagai tarian yang mereka kembangkan. Selama kegiatan Live In, setiap siang, para murid berlatih seni. Peserta yang ditempatkan di Dusun Gejiwan berlatih musik Soreng dan tariannya, sementara peserta di Dusun Gawok berlatih tari Kubro Siswa, peserta di Dusun Candi berlatih Tari Topeng Ireng, peserta di Dusun Berut berlatih tari Warok, dan dusun lainnya pun berlatih kesenian yang berbeda. Kehadiran seni dan latihan-latihannya ternyata merupakan sarana yang sangat baik untuk mengumpulkan warga, mengasah rasa hingga tercipta keselarasan, kerukunan, dan toleransi. Seni adalah sarana pemersatu. Dengan seni, orang tak lagi membahas latar belakang seseorang, baik agama, suku, pekerjaan, maupun hal lainnya. Seni melembutkan hati dan memberi ruang untuk berekspresi. Kesaksian tentang manfaat berlatih seni budaya disampaikan oleh para warga serta pelatih yang kemudian menjadi bahan diskusi yang menarik bagi para murid.

Mengolah Pengalaman Live In
Pengalaman Live In merupakan pengalaman yang sangat berharga, sehingga setelah pulang dari kegiatan Live In, para murid harus segera mengendapkan berbagai pengalamannya dengan menulis refleksi. Selain itu, mereka diminta untuk menganalisis temuan-temuan tersebut menggunakan berbagai pisau keilmuan, kemudian memaparkannya dalam bentuk design thinking, infografis, dan visual storytelling (VST). Permasalahan-permasalahan yang dapat mereka temukan di lokasi Live In antara lain tentang pertanian cabe dan tomat yang sering terkena hama dan petani masih menggunakan pestisida untuk mengatasinya, pemasaran sayuran hasil pertanian yang kurang cepat sehingga sayuran layu dan turun harga, kerusakan lingkungan karena penambangan pasir dan batu, cepat rusaknya sarana jalan desa karena banyaknya truk yang melebihi tonase, rendahnya ketertarikan generasi muda warga lokal pada pertanian, pengaruh paparan teknologi terhadap permainan tradisional anak-anak di perdesaan, dan lainnya. Para murid menganalisis permasalahan-permasalahan tersebut hingga tahap ide dan rancangan prototipe sederhana dalam design thinking melalui diskusi kelompok. Inspirasi-inspirasi yang diperoleh dari lokasi Live In dituangkan dalam rancangan Business Model Canvas terkait agrobisnis, yang menghasilkan beberapa ide kreatif untuk meng-upgrade sesuatu yang sudah ada di lokasi, seperti misalnya ide bisnis cheesy pothil, insektisida alami, pot dari sabut kelapa, dan ide kreatif lainnya. Kiranya Live In di kaki Merapi ini sungguh menjadi kegiatan yang joyful, mindful, dan meaningful bagi para murid, yang mengubah cara pandang mereka tentang dunia pertanian, serta mengajarkan mereka tentang kesederhanaan, perjuangan hidup, kepedulian, hubungan sosial, dan membekali mereka untuk hidup sebagai warga masyarakat. AMDG.


