Peringatan Seabad Gereja Paroki Hati Kudus, Banda Aceh
Seratus tahun lalu, sebuah gereja kecil berdiri di jantung Kota Banda Aceh. Itulah satu-satunya gereja Katolik di kota Aceh sampai saat ini. Bangunan kuning gading dengan menara setinggi 22 meter dan patung ayam besi di puncaknya terletak di kawasan Peunayong. Pada 26 September 2026, Gereja Hati Kudus Yesus genap berusia 100 tahun. Umat merayakannya keesokan harinya, Minggu, 27 September 2026. Perayaan 100 tahun bukan sekadar tentang usia sebuah bangunan. Ini adalah ungkapan syukur atas seratus tahun kehadiran yang setia di tanah Serambi Mekah.

Akar: Verbraak dan Misi yang Ditabur dalam Air Mata
Sejarah gereja ini dimulai jauh sebelum 1926. Pada 29 Juni 1874, Pater Henricus Christian Verbraak, S.J., menginjakkan kaki di Aceh—tiga bulan setelah Perang Aceh dimulai. Ia datang sebagai Aalmoezeneer, pater tentara yang merawat jiwa para militer yang sakit dan sekarat. Sampai 1877, ia tinggal di gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya, dibangun di atas kuburan dangkal tempat bau mayat menembus tanah.
Verbraak melayani selama tiga dasawarsa. Dalam suratnya 1 Juni 1903, ia mencatat dengan tenang, detail, hangat. Ia membaptis 22 orang pada Januari 1903—15 di antaranya Tionghoa. Ia menyusuri pantai barat dengan kapal Bantam, Both, dan Jan yang kerap bocor. Ia menikahkan seorang wanita pribumi dengan sersan Indo-Eropa, dan memberikan Komuni Pertama pada seorang tentara setelah memberikan ajaran gereja.
Pada 5 April 1885, kapel kayu besi yang lebih layak mulai digunakan—didedikasikan kepada Hati Kudus Yesus. Inilah cikal bakal gereja yang kita kenal sekarang. Verbraak meninggalkan Aceh pada 23 Mei 1907 karena penglihatannya makin kabur. Gubernur mengantarnya ke pelabuhan; semua orang berkumpul. Ia meninggal pada 1 Juni 1918 di Magelang, tanpa pernah melihat gereja yang sekarang berdiri.
Estafet: Jansen, Fisscher, dan Gereja yang Bertahan
Setelah Verbraak, tongkat estafet diteruskan. Seorang Jesuit lain, Pater Theodorus Jansen, S.J. tiba 18 Mei 1903 dan menjadi asisten Verbraak dan melanjutkan renovasi. Lalu, pada November 1908, Pater Henricus Fisscher, S.J. menggantikannya. Gereja dengan menara dan patung ayam—ikon yang kita kenal sekarang—mulai digunakan pada 1926, setelah perombakan pada 1924. Ia menjadi gereja Katolik pertama di Aceh, saksi pergantian zaman: kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi, hingga otonomi khusus.
Selama seabad, gereja ini menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa Katolik, tempat katekis mengajar bahasa Mandarin dan katekismus, dan penghiburan bagi tentara Ambon, Jawa, dan Indo-Eropa. Ia berdiri tanpa konflik berarti dengan mayoritas Muslim—tanda bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan.
Tradisi Jesuit di Aceh tidak berhenti pada Verbraak, Jansen, dan Fisscher. Pater S. James Bharataputra, S.J. menjadi Jesuit keempat—dan terakhir—yang pernah berkarya di gereja di Banda Aceh. Ia melayani di sana selama tahun 1983–1991, menjadi bagian dari estafet panjang para Jesuit yang hadir di tanah Serambi Mekah. Setelah masa karyanya, tidak ada lagi Jesuit yang bertugas tetap di Banda Aceh, menjadikannya penutup babak panjang kehadiran Jesuit di gereja ini. Estafet itu kini dilanjutkan para romo OCD (Ordo Karmel tak Berkasut).

2026: Seratus Tahun yang Hidup
Perayaan 27 September 2026 adalah syukur atas kesetiaan Tuhan yang tak pernah putus. Perayaan ini dihadiri sekitar 800 umat, bersama 25 imam dan 30 suster dari berbagai kongregasi – OCD, OFM Conv. dan OFM Cap., Diosesan Medan, S.J. dan para suster KYM, SFD, SCMM. Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata bahwa gereja ini bukan hanya bangunan, melainkan tubuh yang hidup.
Perayaan syukur ini semakin meriah dengan kehadiran Pemerintah Banda Aceh. Perwakilan Wali Kota dan DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) hadir dan memberikan sambutan. Turut hadir pula sejumlah anggota FKUB serta beberapa pendeta dari gereja-gereja Kristen setempat.
Acara menjadi semakin meriah karena Pemerintah Banda Aceh juga turut hadir dalam perayaan syukur ini. Perwakilan Wali Kota dan DPRA (Dewan Perkawilan Rakyat Aceh) hadir dan memberikan sambutan. Beberapa anggota organisasi FKUB, serta beberapa pendeta dari beberapa gereja Kristen setempat.
Umat yang datang pun bukan hanya dari Banda Aceh. Paroki Hati Kudus Yesus membawahi sejumlah stasi yang tersebar jauh di seluruh Aceh. Stasi St. Petrus Takengon di Aceh Tengah berjarak 9–10 jam perjalanan dari pusat paroki; Stasi St. Mikael Lhokseumawe berjarak 7–8 jam; Stasi St. Antonius Padua Meulaboh di Aceh Barat berjarak 6–7 jam; dan Stasi St. Stella Maris Sabang dapat dicapai dalam 1–2 jam dengan kapal feri. Jarak-jarak ini bukan sekadar angka, melainkan bukti kesetiaan umat yang tetap datang, meski harus menempuh perjalanan panjang.
Dalam tradisi Jesuit, magis berarti “lebih”—bukan kuantitas, melainkan kedalaman cinta dan keberanian untuk tetap hadir di tempat yang paling sulit. Verbraak adalah contoh hidup semangat itu: ia tidak memilih Aceh karena mudah, tetapi karena di sanalah ia dipanggil.

Seratus tahun bukan akhir, melainkan awal babak baru: umat Katolik Aceh dipanggil semakin terlibat dalam kehidupan sosial, menjadi saksi belas kasih di tengah masyarakat majemuk. Di atas altar, tulisan itu masih terucap: Cor Iesu, miserere nobis—Hati Yesus, kasihanilah kami. Dari mulut seorang misionaris kesepian di gubuk bambu tepi sungai, hingga mulut seorang ibu muda yang membawa anaknya ke misa Minggu pagi.
Verbraak tidak pernah melihat gereja ini. Tetapi ia menanam sesuatu yang lebih dalam dari bangunan: kesetiaan pada panggilan, keberanian untuk hadir, dan cinta yang tidak menghitung harga. Seratus tahun Gereja Hati Kudus adalah buah dari benih yang ditabur dalam air mata—dan api itu terus menyala, mungkin kecil, tetapi cukup untuk menerangi satu sudut tanah Serambi Mekah.


