Lokakarya Interkulturalitas di Nabire
Nabire – Sepanjang pekan, 11–17 Mei 2026, kami menyelenggarakan Lokakarya–Rekoleksi Interkulturalitas di Kolese Le Cocq d’Armandville (SMA Adhi Luhur). Program ini pada dasarnya merupakan pelatihan keterampilan hidup lintas budaya, sejenis kursus yang umumnya diberikan pada tingkat awal di universitas internasional, dengan durasi sekitar 15 jam pembelajaran per peserta.
Di Kolese kami, kursus tersebut dihadirkan bagi siswa kelas X dan XI dalam bentuk pengalaman selama satu minggu penuh: workshop selama hari-hari sekolah (11–15 Mei), yang kemudian ditutup dengan rekoleksi akhir pekan pada 16–17 Mei.
Program ini difasilitasi oleh Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang tahun lalu sempat singgah di Nabire untuk riset doktoralnya mengenai Interpersonal Capacity for Trustworthiness, kapasitas interpersonal untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya. Penelitiannya menunjukkan bahwa dalam perjumpaan lintas budaya, persoalan kepercayaan sering kali menjadi inti dari pengalaman manusia. Bukan semata-mata karena orang berbeda budaya, melainkan karena di setiap perjumpaan ada kerentanan, risiko, dan keputusan: apakah saya bisa dipercaya dan apakah saya bisa mempercayai.
Karena itu, workshop ini sebenarnya dapat dipahami sebagai bentuk praksis dari riset tersebut, yaitu membantu kaum muda mengenali diri, terhubung dengan sesama, dan membangun rasa saling percaya di tengah realitas keberagaman. Bahkan judul workshopnya sendiri menggambarkan alur itu: who I am, how we connect, dan why we trust.

Selama hari-hari sekolah, beberapa kelas digabungkan secara sengaja, kelas X dan XI dicampur agar para siswa benar-benar dapat berjumpa dengan mereka yang biasanya jarang berinteraksi. Workshop ini sangat minim ceramah. Sekitar delapan puluh persen diisi dengan aktivitas, percakapan, refleksi, menggambar, bergerak, dan praktik langsung.
Pada sesi awal, fokus utamanya adalah identitas budaya: mengenali siapa diri saya, dari mana saya berasal, nilai-nilai yang saya bawa, dan bagaimana budaya membentuk cara saya memandang dunia.
Menarik melihat hasilnya. Di banyak kelompok, para siswa baru menyadari bahwa teman-teman di sebelah mereka berasal dari suku yang berbeda, misalnya suku Mee, Moni, Jawa, Toraja, Ambon, Kei, Batak, Serui, Biak, dan banyak lainnya. Mereka berbagi tentang barapen, bakar batu, rumah adat, bahasa ibu, upacara pemakaman, tradisi keluarga, hingga nilai-nilai yang diwariskan oleh orang tua. Yang menggembirakan, mereka menemukan bahwa meski budaya berbeda-beda, banyak nilai ternyata bertemu di tempat yang sama: gotong royong, kebersamaan, keluarga, dan rasa hormat.
Hari Sabtu fokus bergeser pada keterampilan komunikasi lintas budaya. Anak-anak diajak belajar membangun percakapan yang bermakna dengan mengajukan pertanyaan yang baik, bukan sekadar bertanya untuk mengisi keheningan, melainkan bertanya untuk sungguh mengenal orang lain dan membangun empati. Roberto memperkenalkan teknik yang dikembangkan dari risetnya bahwa pertanyaan yang baik membantu orang membangun koneksi yang lebih dalam.

Ia menyampaikan kepada siswa: “Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian akan memiliki tiga kemampuan penting dalam hidup, yaitu kalian tidak mudah kesepian karena mampu membangun percakapan yang mendalam; kalian akan mampu belajar apa saja dan dari siapa saja; dan kalian akan memiliki kecakapan untuk menyelesaikan konflik relasional secara lebih manusiawi.”
Sesi malam ini ditutup dengan doa examen (pemeriksaan batin) dalam suasana yang berbeda: bersama-sama melingkari api unggun. Ini menjadi aksi simbolik yang meneguhkan dinamika selama workshop-rekoleksi berlangsung: anak-anak yang biasanya duduk dalam lingkaran pertemanan yang sama mulai bergerak ke lingkaran yang berbeda. Walaupun kami berakar dari tradisi budaya yang beragam, kami semua disatukan oleh api semangat yang sama: menjadi men and women for others. Melingkari api unggun yang sama, kami merasakan kehangatan bersama.

Hari Minggu menjadi penutup sekaligus pendalaman tema trust across cultures: bagaimana membangun rasa saling percaya di tengah keragaman. Pagi hari setelah bangun, anak-anak diajak untuk olahraga santai, bergoyang dengan irama pop lokal dari berbagai daerah dan bahasa Nusantara, serta lagu Axé dari Brasil yang diperkenalkan oleh Roberto. Setelah itu, para siswa diajak melakukan walking meditation dengan teman Emaus, teman dekat mereka, untuk saling berbicara mengenai buah-buah workshop dan rekoleksi.

Di akhir program, kami semua merasa bersyukur atas kehadiran Roberto. Framework yang dibawanya terasa sangat relevan, praktis, dan sederhana, tetapi mampu mengubah cara pandang terhadap komunitas. Keragaman identitas di sekolah ini sungguh kaya. Dalam satu kelompok angkatan saja, mudah ditemukan lebih dari dua puluh identitas budaya yang berbeda. Workshop ini diam-diam juga menjadi ruang kolaborasi lintas generasi: para guru terlibat, sementara siswa kelas XII yang baru lulus ikut membantu sebagai usher sekaligus penerjemah.
Roberto sendiri mengaku memperoleh pengalaman baru. Biasanya, ia memfasilitasi kelas kecil dengan sekitar 30 peserta. Di Nabire, untuk pertama kalinya ia mengelola kelompok enam puluhan siswa dalam workshop harian dan ratusan peserta dalam rekoleksi akhir pekan. Di sela kegiatan, ia juga sempat “blusukan” ke pasar tradisional, mengajar anak-anak pengungsi dari Puncak bersama para siswa asrama di Komunitas Ko Membaca, serta memfasilitasi percakapan daring antara anak-anak asrama Waghete dan istrinya, Natali, tentang budaya Kanada, Brasil, dan Mee.

Pada akhirnya, acara ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar workshop. Acara ini menjadi perjumpaan lintas budaya. Penyelenggaraannya juga menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa berada di Papua tidak hanya berarti sibuk memadamkan persoalan atau menyelesaikan masalah. Papua juga dapat dibaca sebagai ruang belajar yang hidup dan laboratorium sosial yang kaya, tempat kita terus diajar untuk melihat manusia, perbedaan, dan komunitas dengan cara yang baru.


