Pilgrims on Christ’s Mission

Belajar Kehidupan dari Tanah, Tangan, dan Kasih

Kebun Sayur Sirkular SD Kanisius Pucangsawit

Pagi itu, 16 Maret 2026, suasana kebun SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta, terasa berbeda dari biasanya. Tawa riang dan wajah penuh sukacita menyambut para murid yang berkumpul dengan seragam rapi. Tangan-tangan kecil mereka, dengan semangat, mulai menanam berbagai sayuran hijau: sawi, kangkung, bayam, dan pakcoy. Dengan hati gembira, mereka menggali tanah, menaburkan benih, lalu menyiramnya perlahan. Tidak sedikit yang tersenyum bangga ketika melihat tanaman mulai tegak berdiri di bedengan kebun sekolah. Ada pula yang dengan penuh perhatian membersihkan rumput liar agar tanaman dapat tumbuh subur. Perawatan kebun sekolah dijadwal sesuai kelas.

“Senang sekali bisa menanam sendiri. Nanti kalau sudah besar, sayurnya bisa dipanen bersama,” ujar Given, murid kelas 1, dengan mata berbinar. Hal yang paling menyentuh adalah semangat kebersamaan yang terlihat di antara mereka. Tidak ada yang bekerja sendiri. Mereka saling membantu membawa air, memegang bibit, hingga membersihkan kebun bersama-sama. Tangan-tangan kecil itu menunjukkan bahwa semangat gotong royong dapat membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan lebih menyenangkan bagi semua.

Siswi SD Kanisius Pucangsawit Surakarta sedang menyiram tanaman sebagai salah satu praktik pembelajaran ketahanan pangan di sekolah. (Foto: M Ihsan | Radar Solo)

 

Apa yang terlihat pagi itu adalah wujud nyata dari gagasan Pater Joseph M.M.T. Situmorang, S.J., Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Beliau menyampaikan bahwa dengan mengelola kebun sekolah, para guru dapat mengajarkan pendidikan secara holistik dan kontekstual yang bermanfaat bagi pengembangan karakter murid. Pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan pengetahuan, sikap, dan kecerdasan akademik, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan serta kemampuan memanfaatkan apa yang ada di sekitar sekolah.

Terwujudnya kebun sirkular merupakan hasil kerja sama dengan Komunitas Ketumbar serta dukungan pendanaan dari Kitabisa melalui program 360 Feed. Program ini memiliki tiga kegiatan utama: pertama, pembuatan kebun sirkular dengan desain permakultur yang dimulai pada 11 Februari 2026. Kebun ini menjadi sarana belajar bagi murid untuk menghasilkan bahan pangan sekaligus membangun ekosistem yang bermanfaat. Kedua, edukasi gizi berbasis pangan lokal oleh Marie Stefanie (Kak Stefi), seorang pegiat pangan lokal dengan pengalaman selama 11 tahun. Ketiga, pengolahan bahan pangan hasil kebun yang dilakukan oleh Kak Stefi bersama perwakilan orang tua murid. Hasil olahan tersebut kemudian dikonsumsi murid secara rutin sebulan sekali, disesuaikan dengan masa panen sayuran segar dari kebun sekolah.

Kak Stefi (Marie Stefanie), seorang pegiat pangan lokal, memberikan edukasi gizi berbasis pangan lokal. (Foto: Penulis)

Sebelum tangan-tangan kecil itu menanam, perjalanan edukasi telah dimulai. Edukasi gizi yang dibawakan oleh Kak Stefi berlangsung mulai 18 Februari 2026 sampai 5 Maret 2026 untuk kelas IV dan V, kemudian dilanjutkan 9 April 2026 sampai 4 Mei 2026 khusus untuk kelas V. Dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami, murid-murid diajak untuk mengenal pentingnya makan sayur, menjaga kesehatan tubuh, serta memilih makanan bergizi. Murid-murid mulai memahami bahwa sayur bukan hanya makanan, tetapi juga sumber kekuatan untuk tumbuh dengan sehat dan cerdas. Mereka belajar tentang isi piringku yang mana di dalamnya terdapat makanan yang sehat dan mengandung gizi seimbang.

Tidak hanya murid, para guru juga ikut belajar dan bertumbuh bersama pada 14 Maret 2026. Dari Komunitas Ketumbar, guru mendapat pembelajaran mengenai cara berkebun, mengolah tanaman, dan juga dikenalkan dengan tanaman yang selama ini para guru belum mengetahui jenisnya. Para guru juga mendapatkan pembelajaran dari Pater Danang Bramasti, S.J., tentang cara mengintegrasikan kegiatan di kebun sirkular agar sesuai dengan Capaian Pembelajaran pada tiap fase. Kebun ini menjadi ruang pembelajaran baru bagi guru dan murid untuk mengintegrasikan pembelajaran kontekstual ke dalam kegiatan di sekolah. Guru dan murid-murid dapat berjalan bersama sebagai pembelajar sejati yang saling mendukung dan saling menguatkan.

Setiap pagi, murid-murid datang dengan wajah penuh semangat dan gembira. Setelah meletakkan tas di dalam kelas, mereka segera berlari menuju kebun untuk melihat pertumbuhan tanaman dan berjalan-jalan mengelilingi kebun dengan penuh harapan. Tangan-tangan kecil itu yang akan membuat kebun sirkular ini menjadi kebun yang kelak dapat menginspirasi. Murid-murid belajar bahwa kehidupan besar dimulai dari benih kecil yang ditanam dengan kasih. Dari tanah yang diolah bersama, mereka belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan kerja sama.

Tanggal 17 April 2026 menjadi hari istimewa. Keceriaan tampak memenuhi halaman SD Kanisius Pucangsawit saat para murid berkumpul di kebun sekolah untuk melakukan panen perdana. Dengan wajah penuh semangat, murid-murid memetik pakcoy, kangkung, bayam, dan berbagai sayuran hijau yang selama ini mereka rawat dengan penuh kasih. Tangan-tangan kecil itu tampak begitu hati-hati saat mencabut sayuran dari tanah. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan ketika melihat hasil kebun yang tumbuh subur berkat kerja keras mereka sendiri. Kebun sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar menanam, tetapi juga tempat anak-anak belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan rasa syukur.

Para siswa tengah memanen sayuran di Kebun Sayur Sirkular SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta, Kamis (30/4/2026). (Foto: Wahyu Prakoso | Solopos)

Kebahagiaan mereka semakin lengkap ketika hasil panen kedua, yaitu sayur pakcoy, diolah menjadi makanan sehat bernama smoothie bersama Kak Stefi pada 23 April 2026. Dengan penuh kesabaran, Kak Stefi mengajarkan cara membersihkan sayuran, mengolah bahan makanan, hingga menyajikannya menjadi hidangan yang lezat dan bergizi. Anak-anak mengikuti setiap proses dengan antusiasme. Mereka belajar bahwa sayuran yang ditanam dengan cinta dapat menjadi makanan sehat yang membanggakan. Suasana yang penuh tawa dan rasa ingin tahu membuat kegiatan memasak terasa hangat dan menyenangkan.

Tidak berhenti di situ, hasil kebun sekolah juga diolah menjadi bubur Manado yang kaya gizi. Perpaduan sayuran hijau segar dengan bubur hangat menghadirkan aroma yang menggugah selera. Murid-murid duduk bersama menikmati makanan hasil kerja mereka sendiri dengan hati yang gembira. Murid-murid sangat menikmati bubur Manado dengan penuh kegembiraan dan sukacita, karena anak-anak baru pertama kali memakannya.

Wali Kota Surakarta, Bapak Respati Achmad Ardianto, turun langsung ke kebun untuk memanen sayuran bersama para siswa SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta.
(Foto: jateng.idntimes.com)

Berita tentang kebun sirkular itu membuat Wali Kota Surakarta, Bapak Respati Achmad Ardianto, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Ibu Venessa Winastesia, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dwi Ariyatno, S.STP., M.A.P., Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan Kota Surakarta Eni Idayati, S.Pd., M.Pd. didampingi oleh Kepala Yayasan Kanisius Surakarta, Pater Joseph M.M.T. Situmorang, S.J., mengunjungi SD Kanisius Pucangsawit untuk melihat langsung kebun sirkular yang dirawat oleh para murid dan guru.

Saat Wali Kota Surakarta memasuki area kebun, murid-murid menyambutnya dengan gembira. Dengan bangga, para murid memperlihatkan hasil tanaman yang telah mereka rawat setiap hari. Tidak sedikit murid yang tampak berbinar saat menjelaskan proses menanam, menyiram, hingga merawat tanaman agar tumbuh dengan sehat. Momen paling berkesan terjadi ketika Wali Kota turun langsung ke kebun untuk memanen sayuran bersama para murid. Dengan penuh kehangatan, beliau memetik pakcoy dan sayuran hijau lainnya sambil berbincang akrab dengan murid-murid. Suasana sederhana itu menghadirkan kebahagiaan yang begitu tulus.

Bagi para murid, pengalaman memanen bersama Wali Kota menjadi kenangan yang berharga. Mereka merasa dihargai dan lebih percaya diri atas usaha kecil yang telah mereka lakukan. Wali Kota memberikan apresiasi kepada sekolah yang mengembangkan kebun sirkular sebagai sarana pembelajaran. Kegiatan ini penting untuk membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan, mandiri, dan memahami ketahanan pangan sejak dini.

Kebun sirkular SD Kanisius Pucangsawit menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di kelas. Murid-murid belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, gotong royong, dan rasa syukur atas hasil alam. Suasana menyentuh ketika murid-murid dengan bangga memperlihatkan hasil panen yang akan diolah menjadi makanan sehat, yang mengajarkan bahwa makanan tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses yang membutuhkan usaha.

Wali Kota Surakarta, Bapak Respati Achmad Ardianto, berdialog dengan salah satu siswa SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta. (Foto: jateng.idntimes.com)

 

Kunjungan Wali Kota memberi semangat kepada semua warga sekolah. Murid-murid semakin termotivasi untuk merawat kebun dan menjaga lingkungan. Mereka percaya bahwa langkah kecil hari ini bisa membawa perubahan besar di masa depan. Kebun sayur ini juga menjadi ruang pembentukan karakter, di mana murid-murid belajar mencintai ciptaan Tuhan, menghargai makanan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kebun ini menanam harapan agar murid-murid tidak hanya pintar, tetapi juga peduli, sehingga menciptakan masa depan yang hijau dan sehat.

Get in Touch With Us

More News