Anak Tunggal Menjawab Panggilan Hidup
Menjadi anak tunggal menempatkan seseorang di poros semesta keluarganya—menjadi satu-satunya pelipur lara, tumpuan harapan, sekaligus saksi tunggal perjuangan orang tua dalam membina rumah tangga. Namun bagi sebagian lainnya, keistimewaan itu justru melahirkan lompatan iman yang radikal: menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan dan Gereja.
Keputusan ekstrem ini jelas memicu pergolakan batin yang hebat. Bayangkan sepasang orang tua yang harus meruntuhkan ego dan impian masa tua mereka, lalu belajar merelakan separuh napas mereka melangkah masuk ke biara, mengenakan jubah, dan bagi para calon imam, kelak mereka akan menerima sakramen imamat. Keluarga “dipaksa” berdamai dengan kenyataan bahwa penerus garis keturunan mereka kini telah sepenuhnya menjadi milik umat.
Kisah tentang pemberian diri ini misalnya terlihat saat perayaan misa perdana Pater Amadea di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta, Minggu sore (16/8) yang bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Maria dan Keberanian Memberikan Diri
Dalam bacaan dari Kitab Wahyu, kita dipertemukan dengan seorang perempuan yang berselubung matahari, bulan berada di bawah kakinya, dan mahkota dua belas bintang di atas kepalanya yang menunjukkan kemuliaan Bunda Maria.
Maria bukanlah Allah. Ia adalah perempuan biasa yang dipilih dan dipersiapkan oleh Allah sendiri untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan dengan menjadi ibu Yesus Kristus. Ia menjadi sangat istimewa karena kesediaannya untuk menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Kesiapsediaan ini menjadi kunci. Dengan demikian, kemuliaan yang diterimanya tidak dapat dilepaskan dari kerelaannya menjawab kehendak Tuhan.
Bagi orang beriman, setiap orang pada dasarnya dipanggil untuk memberikan diri, meskipun caranya berbeda-beda. Misalnya, menjadi seorang religius, entah imam atau biarawan dan biarawati, meskipun dalam keluarga ia adalah anak satu-satunya.
Anak Tunggal yang Direlakan
Dalam konteks ini, di Serikat Jesus ada Pater Amadea, seorang imam yang baru ditahbiskan pada Juli 2026. Ia lahir di Semarang dan merupakan anak tunggal. Selain Pater Amadea, ada juga Pater Popo, Jesuit kelahiran Jakarta yang ditahbiskan sebagai imam bersama Pater Amadea. Sebagai anak tunggal, perjalanan panggilan mereka tentu menjadi perjalanan yang juga harus dilalui bersama kedua orang tuanya. Ada juga Frater Barry, frater teologan asal Paroki Mangga Besar yang juga anak tunggal. Ketiga orang tua dari tiga Jesuit itu tentu saja sama-sama memiliki pengalaman merelakan anak mereka demi menjawab panggilan sebagai religius. Kerelaan para orang tua ini merupakan bentuk pemberian diri yang juga tidak kalah penting daripada pemberian diri anak-anak mereka.
Yesus pernah bersabda bahwa barangsiapa yang mengikuti-Nya hendaklah meninggalkan segala sesuatu, dan kelak ia akan menerima kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat. Pengalaman demikian dirasakan oleh para orang tua yang memiliki anak tunggal dan menjadi religius. Pater Amadea bercerita bahwa ketika dahulu di rumah keluarganya hanya ada tiga orang, tetapi kini ia memiliki keluarga yang sangat besar yang tersebar di banyak tempat.
Dalam Serikat Jesus, para Jesuit menjalani perjalanan pendidikan dan formasi yang sangat panjang, mulai dari novisiat hingga filsafat dan teologi. Mereka semua dididik untuk tidak sekadar cemerlang di bidang akademik, melainkan juga di bidang nonakademik agar perjalanan intelektual, spiritual, dan imamatnya bisa bertemu. Filsafat membantu mereka bertanya dan mencari makna, sementara teologi membawa mereka semakin dalam untuk memahami iman dan misteri keselamatan.

Pemberian Diri dengan Aneka Jalan
Namun, baik pula jika disadari bahwa pemberian diri tidak melulu harus menjadi seorang religius. Tidak semua orang dipanggil menjadi imam, biarawan atau biarawati. Semua orang bisa memberikan yang terbaik, baik berupa profesionalisme, perhatian, waktu, maupun tenaga, melalui pekerjaan, keluarga, gereja, maupun masyarakat luas. Semua ini juga tetap bisa menjadi saluran belas kasih Allah.
Perjalanan seseorang sebagai seorang religius bisa saja membawa pesan bahwa belajar, bekerja, melayani, bahkan meninggalkan keluarga sekalipun, semuanya menjadi bermakna ketika dijalani sebagai bentuk pemberian diri kepada Tuhan dan sesama.
Memberikan diri sebagai anak tunggal dalam keluarga bukan berarti kehilangan keluarga. Sebaliknya, ketika seseorang memberikan dirinya dengan tulus, ia dapat menemukan keluarga yang lebih luas dalam pelayanan, persaudaraan, dan kasih.
Pada akhirnya, seperti Bunda Maria yang kita teladani, jalan menuju kemuliaan bukanlah pertama-tama tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang seberapa berani kita mengatakan “ya” ketika Tuhan meminta kita untuk memberikan diri.

