Pilgrims on Christ’s Mission

Tahbisan Imam SJ: Di Tengah Dunia yang Penuh Ketidakberdayaan

Pada Rabu, 29 Juli 2026, pada Peringatan Santa Martha, Maria, dan Lazarus, lima diakon  Serikat Jesus ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Antonius dari Padua, Kotabaru, Yogyakarta. Kelima diakon tersebut adalah: Andreas Agung Nugroho, Amadea Prajna Putra Mahardika, Frederick Ray Popo, Klaus Heinrich Raditio, dan Gregorius Agung Satriyo Wibisono.

Upacara tahbisan tahun ini sungguh bermakna karena dihadiri oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J., yang melakukan kunjungan apostolik ke Indonesia dari tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2026. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Petrus Boddeng Timang, Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, dan didampingi oleh Provincial Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., Rektor Kolese Ignatius, Pater Cyprianus Kuntoro Adi, S.J.; dan Superior Jenderal, Pater Arturo Sosa, S.J. sebagai konselebran.

Penumpangan tangan kepada Diakon yang akan menerima Sakramen Imamat. Foto: Kotabaru DIgital Service

 

Berpusat pada tema Misericordiam Volo (Aku Menginginkan Belas Kasih), perayaan ini mengajak para imam yang baru ditahbiskan untuk menghayati panggilan imamat mereka sebagai ekspresi nyata belas kasih Allah bagi dunia. Di awal homilinya, Uskup Petrus mengakui bahwa ia merasa gugup. Salah satu alasannya, jelasnya, adalah kedalaman refleksi yang terkandung dalam tema tahbisan seperti yang disajikan dalam buku panduan liturgi. Menurutnya, tema Misericordiam Volo hanya dapat dipahami sepenuhnya melalui pengalaman spiritual yang mendalam.

Uskup Petrus juga merenungkan kondisi dunia saat ini, yang ditandai dengan berbagai krisis. Ia mencatat bahwa hal ini telah menyebabkan banyak orang mengalami apa yang ia gambarkan sebagai “globalisasi ketidakberdayaan”—perasaan tak berdaya yang menyebar luas. Namun, di tengah realitas ini, bacaan pertama menawarkan pesan harapan. Sukacita sejati, ia menekankan, lahir dari perjumpaan dengan Tuhan dan dipenuhi dengan berbagi kasih-Nya kepada dunia. Ia menyimpulkan dengan mengutip bacaan pertama, “Teruslah melakukan hal-hal yang telah kamu pelajari dan terima serta dengar dan lihat di dalam Aku.”

Uskup Petrus Boddeng Timang, Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin. Foto: Kotabaru Digital Service

 

Berdasarkan bagian ini, Uskup Petrus mendorong para imam yang baru ditahbiskan untuk membentuk hidup mereka sesuai dengan teladan Kristus. Ia mengamati bahwa dunia saat ini didominasi oleh budaya FOMO (fear of missing out)—kecemasan akan ketertinggalan. Sebaliknya, katanya, para diakon dipanggil untuk merangkul JOMO (sukacita karena tidak ikut arus): sukacita karena berani memilih kehendak Allah daripada tuntutan dunia. Sukacita seperti itu, tambahnya, lahir dari perjumpaan dengan Kristus melalui mendengarkan Dia, melihat Dia, dan mengikuti Dia.

Setelah homili, perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan upacara tahbisan imam. Selama upacara ini, setiap diakon berjanji untuk taat kepada uskup dan superiornya. Kemudian mereka menerima penumpahan tangan dan Doa Tahbisan sebagai tanda pencurahan Roh Kudus, yang kemudian diikuti dengan pemakaian stola dan kasula, simbol pelayanan imamat mereka. Melalui tahbisan, mereka menerima wewenang untuk merayakan Ekaristi, mewartakan Injil, dan melayani umat Allah melalui sakramen-sakramen Gereja.

Para Neomis (Imam baru yang beru menerima Sakramen Imamat) memberikan berkat perdananya. Foto: Tim Komunikator Jesuit Indonesia

 

Dalam penutupnya, Provincial Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., menekankan bahwa misi yang dipercayakan kepada para imam baru tersebut mewujudkan komitmen Serikat untuk mengintegrasikan kedalaman intelektual, mendampingi kaum muda, dan memupuk semangat kerasulan dalam pelayanan paroki. Beliau mengungkapkan harapan bahwa para imam baru tersebut akan memberikan pelayanan yang berakar pada refleksi mendalam sambil tetap dekat dengan kebutuhan pastoral umat beriman, baik dalam karya paroki maupun dalam pelayanan kerasulan lainnya. Penugasan awal mereka ini mencerminkan visi tersebut. Dua orang ditugasi belajar filsafat dan teologi, satu orang di bidang formasi kaum muda, dan dua lainnya ditugasi melayani karya paroki dan pendidikan tinggi.

Get in Touch With Us

More News