Pilgrims on Christ’s Mission

70 Tahun Gereja Santa Perawan Maria Ratu Berkarya

Menjadi Gereja di Jantung Ibukota

Pada 1 Juni 2026, Gereja Santa Perawan Maria Ratu, atau yang lebih populer dengan sebutan Paroki Blok Q, merayakan ulang tahun ke-70. Sebagai wujud rasa syukur atas berkat yang diterima, terdapat beberapa kegiatan untuk menyambut ulang tahun ke-70 Paroki Blok Q. Bermula dari Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, dengan prosesi pemberkatan sacrarium (Sumur Suci), yang sebelumnya belum pernah ada di Paroki Blok Q. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan panggung hiburan—antara lain oleh Kelompok Lansia yang memberikan pertunjukan angklung, serta OKS yang terdiri dari Pater Novri, Pater Yus, dan Pater Steve diiringi oleh Jamaica Cafe. Sembari panggung hiburan berlangsung, umat yang hadir menikmati berbagai hidangan yang tersedia. Meskipun pada hari itu hawa panas khas musim pancaroba melanda, sedikit pun tidak menyurutkan kebahagiaan umat yang hadir.

 

Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo memberkati sacrarium (Sumur Suci) dengan memercikinya dengan air suci.

 

Keutuhan Paroki Blok Q

Di balik perayaan yang meriah, penuh syukur, dan penuh canda dan tawa, terdapat perjalanan panjang yang telah dilalui oleh Gereja Blok-Q. Pastor kepala yang silih berganti, dengan perangkat pendukung seperti Dewan Paroki Harian dan Dewan Paroki Pleno, tidak pernah lelah menjaga kelangsungan Paroki Blok-Q. Hingga hari ini Paroki Blok-Q tetap utuh berdiri dengan pengurus paroki dan umat yang kompak. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar umat Paroki Blok Q merupakan pendatang dan umat transit, Paroki Blok Q turut mengakomodasi kebutuhan umat berbahasa Inggris melalui Catholic Fellowship Jakarta (CFJ). Hingga 70 tahun berkarya, Paroki Blok Q terus berupaya menyediakan komunitas dan menjadi rumah yang nyaman bagi semua. Baik melalui pelayanan liturgis maupun berbagai kegiatan sosial, paroki ini terus menyentuh setiap pribadi dalam dinamika masyarakat luas. Pada periode ini, Paroki Blok Q digembalakan oleh Pater F.X. Dedomau Djatmiko da Gomez, S.J. dan Pater Rekan Ignasius Suryadi, S.J.

 

Seorang umat sedang menyimak sejarah Paroki Blok Q yang ada pada Lorong Sejarah.

 

Bangunan Gereja Sebagai Bagian Dari Sejarah

Meskipun sejatinya Gereja adalah persekutuan umat Allah, kehadiran bangunan gereja tidak dapat dipisahkan dari fungsinya sebagai rumah yang menaungi umat yang hadir kepada-Nya. Setiap sudut bangunan Paroki Blok Q menjadi saksi atas dinamika paroki ini. Bangunan gereja Paroki Blok Q terdiri atas dua bangunan, yaitu gereja lama dan gereja baru dengan gaya arsitekturnya masing-masing. Bangunan Gereja lama digunakan sejak 1956 dan saat ini beralih fungsi menjadi kapel, dengan gaya arsitektur kolonial dan kapasitas sekitar 400 umat.

Sementara itu, gereja baru berkapasitas 1.000 umat dibangun sejak 2004 dan selesai pada Juni 2006, dengan gaya arsitektur minimalis dan konsep ramah lingkungan. Setiap perjalanan Paroki Blok Q juga terekam di dinding lorong yang disulap menjadi Lorong Sejarah. Dimulai dari cerita tentang awal mula terbentuknya Paroki Blok Q, perjalanan panjangnya, hingga para imam yang pernah bertugas di Paroki Blok Q. Lorong Sejarah ini akan dipajang selama satu tahun penuh, yang diharapkan dapat menjadi pengingat akan fondasi iman dan pengalaman yang telah diwariskan oleh para imam dan umat terdahulu. Sehingga pada akhirnya, Paroki Blok Q dapat tetap menjaga keutuhannya sebagai gereja, dengan semangat kasih dan pengorbanan Santa Perawan Maria Ratu sebagai pelindung paroki.

Get in Touch With Us

More News